Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Daun

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Daun Simpel Kok

Selamat datang diblog saya pada kali ini kita akan membahas tentang cara membuat pupuk kompos dari daun. Berikut penjelasannya.

Pupuk Kompos

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Daun

Pupuk kompos merupakan salah satu pupuk organik padat bukan pupuk organik cair ya guys yang dibuat dengan cara menguraikan sisa-sisa tanaman dan hewan dengan bantuan organisme hidup. Untuk membuat pupuk kompos dibutuhkan bahan baku seperti material organik dan organisme pengurai.

Metode pengomposan dikembangkan dari proses penguraian material organik yang terjadi secara alami. Terbuatnyaa humus di hutan merupakan salah satu bentuk pengomposan secara alami.

Proses pembuatan pupuk kompos berjalan sangat lambat, bisa sampai berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Kemudian umat manusia memodifikasi proses penguraian material organik tersebut.

Sehingga pengomposan yang dikelola manusia bisa dilakukan dalam tempo yang lebih singkat untuk menjadi pupuk kompos.

Limbah Tanaman Sebagai Bahan Pupuk Kompos

  1. Jerami padi

Jerami padi adalah sisa tanaman yang banyak dihasilkan di Indonesia. Karena  Indonesia merupakan daerah tropis dan menjadikan beras sebagai makanan pokok di sebagian besar wilayah di Indonesia.

Sampai saat ini petani padi masih minim yang memanfaatkan jerami padi menjadi bahan baku kompos,mereka lebih sering membakarnya dan menjadikannya pupuk. Tanaman padi banyak menghasilkan jerami padi.

  1. Sampah sayuran

Sampah sayuran bisa diperoleh dari pasar dan perumahan. Pada awalnya sampah ini pisahkan antara yang organik dan anorganik.

Contoh anorganik seperti : kertas, alumunium, kaca, dan lain-lain, yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan daur ulang. Sedangkan sampah organik dapat berupa sayuran, buah-buahan, serta sisa makanan, namun belum dikelola lebih lanjut.

Padahal sampah sayuran biasanya terdiri dari bahan-bahan yang memiliki kandungan air yang cukup banyak. Sehingga memudahkannya cepat membusuk.

Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya kwalitas sanitasi, pencemaran lingkungan, serta munculnya bibit penyakit tertentu.

Dengan demikian, pengeloaan sampah sayuran memerlukan penanganan lebih lanjut untuk meminimalisir masalah lingkungan sekitar.

       3.Tangkai jagung

Jagung merupakan makanan sumber karbohidrat setelah beras. Tanaman jagung juga menjadi makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia.

Dari budidaya tanaman jagung, limbah yang dihasilkan adalah berupa jerami jagung dan tongkol jagung. Pengolahan limbah jagung juga masih minim, sehingga jika limbah jagung dapat dijadikan pupuk kompos.

Maka dapat meningkatkan produktifitas pupuk organik dan mengurangi pupuk yang berbahan kimia.

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Daun

Persiapan alat dan bahan :

  • Sabit / parang
  • Cetakan bambu yang dibuat menyerupai pagar
  • Cetakan ini dibuat kayak pagar ya guys dengan 4 bagian berukuran 2 x 1 dan 1 x 1, masing-masing 2.
  • 2 Ember atau wadah untuk penampungan air, dan juga untuk menyiram aktivator
  • Air secukupnya
  • Aktivator pengomposan
  • Tali
  • Plastik penutup / terpal multifungsi berukuran 2 m
  • Jerami padi, bisa ditambahkan pula dengan limbah pertanian yang lain seperti sisa daun, rumput, atau sisa tanaman lainnya. Namun hindari menggunakan batang bambu, ranting, kayu, atau tulang ikan. Yang kita ambil daunnya jerami padi aja ya guys.

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Daun:

  1. Pertama-tama Anda bisa menyiapkan air ke dalam bak atau wadah penampungan berukuran besar. Bersamaan dengan itu, larutkan aktivator sesuai dosis yang diperlukan.
  2. Aduk-aduk hingga aktivator tercampur rata dengan air.
  3. Siapkan cetakan bambu dan pasang cetakan tersebut dengan ukuran yang sesuai atau seperti yang telah kami sampaikan di atas.
  1. Potong-potong terlebih dahulu jerami dan bahan lainnya mengguanakan parang agar proses pengomposan berjalan dengan mudah.
  2. Masukkan satu lapis jerami ke dalam cetakan tersebut (dapat pula ditambahkan kotoran ternak agar kasiat dari pupuk semakin tokcer).
  3. Siram aktivator yang sudah diencerkan tersebut pada lapisan pertama jerami. Basahi sampai semua rata.
  4. Injak-injak jerami padi agar terasa padat
  5. Ulangi dengan menambahkan satu lapisa lagi jerami padi, lalu siram kembali dengan aktivator.
  6. Lakukan proses tersebut secara berselang, hingga bahan abis atau cetakan telah penuh.
  7. Setelah cetakan penuh, buka cetakan tersebut kemudian tutup bakal kompos tersebut dengan menggunakan plastik atau terpal
  8. Ikat plastik penutup dengan erat agar tidak mdah terbuka dan mengundang hewan kecil masuk di salamnya
  9. Jika perlu letakkan batu pada tiap sisi atau pada bagian atas tutup plastik
  10. Proses pengomposan dikatakan berhasil jika terjadi peningkatan suhu, penurunan volume / ketinggian, serta warna dari jerami padi.
  11. Proses ini berlangsung sekurang-kurangnya 1 bulan, berbeda dengan yang langsung bisa kita aplikasikan.

Pantau perubahan-perubahan fisik dan kimiawi pada jerami padi.

 Proses Fermentasi Berlangsung

Memiliki ciri Seperti berikut :

  • Suhu pada tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat setelah inkubasi, dan mencapai puncaknya pada 60 – 70 derajat selcius.
  • Saat suhu meningkat itulah, mikroba akan giat melakukan penguraian atau dekomposisi jerami padi.
  • Daya tampung dari lapisan jerami padi akan menyusut seiring dengan proses dekomposisi tersebut. Penyusutan akan berlangsung sampai 50%.
  • Apabila selama dua hari proses pengomposan berlangsung tidak ditmukan penyusutan atau pengingkatan suhu, maka dapat dikatakan proses tersebut berlangsung lambat atau gagal sama sekali.
  • Segera buka tutup plastik dan pantau tumpukan jerami padi, apakah terlalu kering? Atau justru terlalu basah? Adakah tercium bau kurang sedap? Suhunya meningkat atau dingin?
  • Apabila tumpukan jerami padi kering, maka tambahkan air secukupnya dan lakukan pembalikan.
  • Jika tumpukan jerami padi terlalu basah dan berbau menyengat, maka lakukan pembalikan atau bisa juga ditambahkan bilah-bilah bambu di dalamnya.

Pupuk kompos yang sudah matang mempunyai ciri:

  • Warna jerami cokelat kehitaman
  • Tekstur lunak
  • Suhu pengomposan sudah kembali seperti suhu awal pengomposan
  • Volume menyusut
  • Tidak lagi berbau menyengat

Sekian dari saya semoga bermanfaat dan terima kasih.